Pidato Presiden Joko Widodo yang mengkritik dan menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk direformasi, sangat diapresiasi DPR. PBB selama ini hanya dikuasai segelentir negara maju yang tidak adil memberi peluang kemerdekaan kepada semua negara, terutama di Asia dan Afrika.
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengakui, pidato Presiden Jokowi di hadapan para pemimpin negara Asia Afrika dalam pembukaan Konferensi Asia Afrika, sangat bagus. Menurutnya, baru kali ada presiden Indonesia yang berani mengeritik organisasi internasional tersebut setelah mendiang Presiden Soekarno tentu.
“Soal reformasi PBB sudah banyak disuarakan, tapi baru kali ini Presiden RI menyuarakan tentang reformasi PBB. Saya sangat apresiasi. Ini penting, karena formasi PBB sangat tidak adil, dipimpin oleh negara-negara yang punya hak veto. Itu tidak demokratis sama sekali. Jadi PBB itu harus dirombak,” ungkap Fadli, usai mengikuti pembukaan Konferemsi Parlemen Asia Afrika, Kamis (23/4).
Fadli juga mengapresiasi kritik Presiden terhadap Bank Dunia dan IMF. Dengan kritik itu, pemerintah diharapkan konsisten untuk tidak lagi berutang pada dua lembaga keuangan dunia tersebut. “Pidato Pak Jokowi kemarin (22/4), saya kira bagus, termasuk pidato yang keras, mau mengkritik Bank Dunia dan IMF. Tapi sebaiknya kita juga konsisten. Kalau kita mengeritik Bank Dunia jangan kita berutang ke Bank Dunia dan IMF. Konsistensi penting untuk dicatat. Semangat dari pidato itu sangat bagus. Kita dukung. Artinya, kita ingin jadi bangsa yang mandirim dan berdikari.”
Sementara mengomentari rencana pemerintah membuka KBRI di Ramalah, Palestina, Fadli juga mengapresiasi. Menurutnya, rencana tersebut sebenarnya merupakan janji Presiden saat kampanye dulu. “Janji itu masih diingat oleh masyarakat. Saya kira sebaiknya segera diwujudkan.
No comments:
Post a Comment